Jumat, 10 Agustus 2012

YANG KITA PIKIRKAN, ITULAH YANG KITA DAPATKAN

FILIPI 4 : 8-9
“ Jadi akhirnya, saudara2, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari, dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu “
Saya mengenal ayat ini dengan baik, setelah saya mereview, melihat ulang perjalanan hidup saya. Semasa SD, saya pernah punya kebanggaan; yaitu ketika masuk final lomba lari. Saya berhadapan dengan kawan yang postur tubuhnya tinggi besar, paling besar di kelas. Selalu meremehkan saya, karena saya memang “kecil dan kerempeng”.
Sewaktu babak final, dia sudah mengecil ngecilkan saya dengan jarinya. Tapi saya diam, walaupun dalam hati mendidih juga melihat sikapnya. Tetapi sikap “meremehkan” kawan saya ini malah memicu dan memacu saya untuk bertekad : menang.
Jadi, sewaktu sudah dipanggil, masuk ke garis start, pada waktu yang ada dalam pikiran saya adalah :” saya akan menang, saya harus menang!” Dan saya berlari dengan “keyakinan” seperti itu. Dan luar biasa, saya menang.
Pengalaman kedua : Saya buka rahasia, kenapa saya di sini, di Gunung Madu ini.
Saya melayani Tuhan, selama ini di kota pantai. Di Cilacap, pantai selatan. Di Pasuruan, Pantai Jawa, di Teluk Betung, di pantai. Semua saya jalani dengan “gembira”, saya yakini sebagai panggilan Tuhan. Tapi ada pertanyaan dan ada kerinduan yang lain. Saya ingin sekali pelayanan di gunung. “ Saya harus di gunung, saya mesti di kota gunung.
Dan untuk ini, saudara, saya berdoa terus, sambil bertanya, kadang mengadu kepada Tuhan :” Tuhan, kenapa Engkau memanggil aku di kota pantai terus ?” Bolehkah aku melayani Engkau di gunung ?” Tapi saya tidak pernah menyebut gunung apa ?
Ketika saya dip roses di Gunung Madu dan berada di tengah tengah saudara, saya baru ingat doa saya, “ ini jawaban Tuhan ?!” Tapi gunungnya bukan tanah berbukit tinggi, tapi tanah datar, namanya saja Gunung Madu.
Sekarang saya telah banyak belajar dan mengerti lebih baik arti afirmasi, yaitu suatu ungkapan atau kalimat positif yang terus menerus diulang untuk menanamkan suatu pesan yang kuat pada diri kita, pada bawah sadar kita.

Saya yakin ini juga yang terjadi pada seorang janda yang terus menerus datang kepada hakim, yang akhirnya hakim itu “mengabulkannya”.
Setiap hari kita memiliki ribuan pemikiran dan sayangnya, kita tidak tahu berapa banyak pemikiran itu positif atau negative. Dengan pemikiran yang jernih, bening, positif dalam bentuk afirmasi, kita sedang meningkatkan pemikiran jernih, positif yang diterima oleh pikiran bawah sadar kita.
Produk fikiran yang negative, hanya melahirkan masalah yang berlarut larut dalam hidup kita. Kalau kita dipenuhi dan selalu dihinggapi pikiran :” betapa malang nasibku”, kata kata ini memastikan kita berada pada jalur “malang”, karena itu adalah “keyakinan” kita, yang kita lontarkan, kita kumandangkan, kita tebarkan, maka hasilnya adalah : kemalangan.
Tetapi kita dapat segera mengubah segala keyakinan ini melalui afirmasi yang positif.
Afirmasi ini bekerja pada level seluler, ini bukan hanya pemikiran yang melintas sekilas, yang tidak mempengaruhi pikiran serta tubuh kita. Ilmu medis menunjukkan bahwa pikiran negative, kontra produktif, yang jelek jelek, ternyata dapat menciptakan penyakit psikosomatis ( penyakit yang timbul karena kecemasan dan kekecewaan dan bukan karena infeksi atau luka ).
Maha Benar FirmanMu ya Tuhan, ketika Paulus mengatakan :” akhirnya, saudara 2…semua yang : benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji:……pikirkanlah itu!” Alokasikan waktu kita, konsentrasi kita, energy, focus, perhatian, komitmen kita pada hal hal itu, yang benar, mulia, suci, manis….patut dipuji.
Jadi kalau pemikiran negative : kecewa, kuatir, jengkel, geram dan marah hanya akan melahirkan penyakit, maka pikiran pikiran yang jernih, bening, produktif menghasilkan kesehatan penuh, hidup yang dinamis tidak nglokro; kuat tidak lunglai; punya visi tidak stagnan, mandeg.
Mengubah pemikiran, mengubah kehidupan.
Pemikiran kita juga sangat berpengaruh terhadap orang lain. Coba, bila anda menghabiskan waktu cukup lama bersama dengan orang yang sedang marah, jengkel, kecewa, kemrungsung hidupnya, tidak bisa tenang; saya yakin lama lama kita akan ketularan; kemrungsung juga karena kita menyerap energy negative, energy buruk dari mereka. Sebaliknya, bila kita dekat orang yang tenang, bijak, berwawasan, ini juga akan berpengaruh dalam hidup kita.
Yesus mengatakan kalau kita menerima nabi sebagai nabi, maka kita menerima upah nabi. Menerima orang benar sebagai orang benar, maka kita akan menerima upah orang benar (       ), di masa kini, kalimat Yesus itu diteruskan “kalau kita ingin sukses, dekat dekatlah dengan orang sukses. Kalau ingin kaya, dekatlah dengan orang kaya”.
Di sebuah daerah  ada yang namanya kampong maling. Hampir semua penduduknya berprofesi sebagai maling, bahkan untuk menunjukkan bahwa seseorang itu sudah aqil balik, sudah dianggap dewasa maka ia harus punya pengalaman ‘maling’.
Lingkungannya maling, ceritanya mencuri, teorinya, prakteknya, pengalamannya : pokoknya lika liku, pernak pernik mencuri mereka punya semua. Akibatnya : semua orang terpengaruh cara dan gaya hidup seperti itu.
Karena itu saudara, seorang apoteker dan psikoterapis Prancis : Emile Coue ( 1857-1926 ) mengajukan gagasan agar setiap hari orang mengatakan kepada dirinya “ Setiap hari, dan dengan segala cara, aku menjadi lebih baik dan lebih baik !”
Ketika kita berduka, afirmasi macam apa yang selalu kita ungkapkan ?
Afirmasi itu terbentuk dalam cara positif, “menyatakan apa yang kita inginkan, tinimbang apa yang ingin kita hindari”
Kata kata “ aku ingin berhenti menangis”, ini yang ingin kita hindari, dalam afirmasi, kata kata yang muncul adalah bukan“ aku ingin berhenti menangis” tapi “aku bergembira” :….positif.
Bandingkan :” aku ingin berhenti berdusta!” ini keinginan.
Afirmasi positif :”Aku selalu menyatakan kebenaran!”
Jadi afirmasi selalu dalam bentuk kala sekarang ( present tense ), seolah olah anda telah memiliki apa yang sedang anda cari, menerima pengabulan doa anda,”  (     ).
Ketika Paulus mengalami up down kehidupanya, gagal suksesnya hidup, cahaya dan redupnya bintang hidupnya, naik turunnya kehidupan. Apa yang dia afirmasikan :” Segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang member kekuatan kepadaku” ( Fil 4 : 13 ), ini adalah afirmasi yang sangat popular. Holy field, petinju kelas berat, sangat takut menghadapi tank mini, Mike Tyson, dalam ketakutanya ia memakai sabuk bertuliskan ayat di atas dan nyatanya ia selalu menang, sampai sampai saking jengkelnya Tyson menggigit telinga Holyfield.
Norman Vincent Peale, mengingat perjalanan mobil bersama seorang wiraniaga yang memiliki koleksi kartu berisi kutipan ayat ayat Kitab Suci. Ia menaruh satu kartu dibawah jepitan panel instrument, sehingga ia dapat bermeditasi dan memikirkannya sambil berkendaraan menuju pertemuan lain. Dari seorang pemikir negative yang hanya menghasilkan sedikit penjualan, ia menjadi seorang wiraniaga yang sukses sekaligus membangun jalan hidup yang kuat.
Bagaimana mungkin ia dapat gagal, kalau ternyata, ia terus menerus dikenai afirmasi “ Sesungguhnya sekiranya kamu memiliki iman…..takkan ada yang mustahil bagimu “ ( Mat 17 : 20 ) dan “Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita ?” ( Rom 8 : 31 ).
Saudara yang kekasih,
Kalau kita sedang menghadapi hari hari yang suram, karena “ditinggal” kekasih kita, jangan kita katakana :” Aku tidak cukup baik, sehingga sepantasnya aku menerima ini !”, bukan dan jangan kata kata ini, tapi katakan”
 “aku tahu dan percaya Allah mengasihi aku!”
“aku berharga untuk segala sesuatu yang terbaik!”
“aku menciptakan kegembiraan, kemanapun aku pergi!”
“aku pantas memperoleh yang terbaik”
Amin,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar