FILIPI 4 : 8-9
“ Jadi akhirnya, saudara2, semua yang benar, semua yang mulia, semua
yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar,
semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya
itu. Dan apa yang telah kamu pelajari, dan apa yang telah kamu terima,
dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku,
lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu “
Saya mengenal ayat ini dengan baik, setelah saya mereview, melihat ulang
perjalanan hidup saya. Semasa SD, saya pernah punya kebanggaan; yaitu
ketika masuk final lomba lari. Saya berhadapan dengan kawan yang postur
tubuhnya tinggi besar, paling besar di kelas. Selalu meremehkan saya,
karena saya memang “kecil dan kerempeng”.
Sewaktu babak final, dia sudah mengecil ngecilkan saya dengan jarinya.
Tapi saya diam, walaupun dalam hati mendidih juga melihat sikapnya.
Tetapi sikap “meremehkan” kawan saya ini malah memicu dan memacu saya
untuk bertekad : menang.
Jadi, sewaktu sudah dipanggil, masuk ke garis start, pada waktu yang ada
dalam pikiran saya adalah :” saya akan menang, saya harus menang!” Dan
saya berlari dengan “keyakinan” seperti itu. Dan luar biasa, saya
menang.
Pengalaman kedua : Saya buka rahasia, kenapa saya di sini, di Gunung Madu ini.
Saya melayani Tuhan, selama ini di kota pantai. Di Cilacap, pantai
selatan. Di Pasuruan, Pantai Jawa, di Teluk Betung, di pantai. Semua
saya jalani dengan “gembira”, saya yakini sebagai panggilan Tuhan. Tapi
ada pertanyaan dan ada kerinduan yang lain. Saya ingin sekali pelayanan
di gunung. “ Saya harus di gunung, saya mesti di kota gunung.
Dan untuk ini, saudara, saya berdoa terus, sambil bertanya, kadang
mengadu kepada Tuhan :” Tuhan, kenapa Engkau memanggil aku di kota
pantai terus ?” Bolehkah aku melayani Engkau di gunung ?” Tapi saya
tidak pernah menyebut gunung apa ?
Ketika saya dip roses di Gunung Madu dan berada di tengah tengah
saudara, saya baru ingat doa saya, “ ini jawaban Tuhan ?!” Tapi
gunungnya bukan tanah berbukit tinggi, tapi tanah datar, namanya saja
Gunung Madu.
Sekarang saya telah banyak belajar dan mengerti lebih baik arti
afirmasi, yaitu suatu ungkapan atau kalimat positif yang terus menerus
diulang untuk menanamkan suatu pesan yang kuat pada diri kita, pada
bawah sadar kita.
Saya yakin ini juga yang terjadi pada seorang janda yang terus menerus
datang kepada hakim, yang akhirnya hakim itu “mengabulkannya”.
Setiap hari kita memiliki ribuan pemikiran dan sayangnya, kita tidak
tahu berapa banyak pemikiran itu positif atau negative. Dengan pemikiran
yang jernih, bening, positif dalam bentuk afirmasi, kita sedang
meningkatkan pemikiran jernih, positif yang diterima oleh pikiran bawah
sadar kita.
Produk fikiran yang negative, hanya melahirkan masalah yang berlarut
larut dalam hidup kita. Kalau kita dipenuhi dan selalu dihinggapi
pikiran :” betapa malang nasibku”, kata kata ini memastikan kita berada
pada jalur “malang”, karena itu adalah “keyakinan” kita, yang kita
lontarkan, kita kumandangkan, kita tebarkan, maka hasilnya adalah :
kemalangan.
Tetapi kita dapat segera mengubah segala keyakinan ini melalui afirmasi yang positif.
Afirmasi ini bekerja pada level seluler, ini bukan hanya pemikiran yang
melintas sekilas, yang tidak mempengaruhi pikiran serta tubuh kita. Ilmu
medis menunjukkan bahwa pikiran negative, kontra produktif, yang jelek
jelek, ternyata dapat menciptakan penyakit psikosomatis ( penyakit yang
timbul karena kecemasan dan kekecewaan dan bukan karena infeksi atau
luka ).
Maha Benar FirmanMu ya Tuhan, ketika Paulus mengatakan :” akhirnya,
saudara 2…semua yang : benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar,
kebajikan dan patut dipuji:……pikirkanlah itu!” Alokasikan waktu kita,
konsentrasi kita, energy, focus, perhatian, komitmen kita pada hal hal
itu, yang benar, mulia, suci, manis….patut dipuji.
Jadi kalau pemikiran negative : kecewa, kuatir, jengkel, geram dan marah
hanya akan melahirkan penyakit, maka pikiran pikiran yang jernih,
bening, produktif menghasilkan kesehatan penuh, hidup yang dinamis tidak
nglokro; kuat tidak lunglai; punya visi tidak stagnan, mandeg.
Mengubah pemikiran, mengubah kehidupan.
Pemikiran kita juga sangat berpengaruh terhadap orang lain. Coba, bila
anda menghabiskan waktu cukup lama bersama dengan orang yang sedang
marah, jengkel, kecewa, kemrungsung hidupnya, tidak bisa tenang; saya
yakin lama lama kita akan ketularan; kemrungsung juga karena kita
menyerap energy negative, energy buruk dari mereka. Sebaliknya, bila
kita dekat orang yang tenang, bijak, berwawasan, ini juga akan
berpengaruh dalam hidup kita.
Yesus mengatakan kalau kita menerima nabi sebagai nabi, maka kita
menerima upah nabi. Menerima orang benar sebagai orang benar, maka kita
akan menerima upah orang benar ( ), di masa kini, kalimat Yesus
itu diteruskan “kalau kita ingin sukses, dekat dekatlah dengan orang
sukses. Kalau ingin kaya, dekatlah dengan orang kaya”.
Di sebuah daerah ada yang namanya kampong maling. Hampir semua
penduduknya berprofesi sebagai maling, bahkan untuk menunjukkan bahwa
seseorang itu sudah aqil balik, sudah dianggap dewasa maka ia harus
punya pengalaman ‘maling’.
Lingkungannya maling, ceritanya mencuri, teorinya, prakteknya,
pengalamannya : pokoknya lika liku, pernak pernik mencuri mereka punya
semua. Akibatnya : semua orang terpengaruh cara dan gaya hidup seperti
itu.
Karena itu saudara, seorang apoteker dan psikoterapis Prancis : Emile
Coue ( 1857-1926 ) mengajukan gagasan agar setiap hari orang mengatakan
kepada dirinya “ Setiap hari, dan dengan segala cara, aku menjadi lebih
baik dan lebih baik !”
Ketika kita berduka, afirmasi macam apa yang selalu kita ungkapkan ?
Afirmasi itu terbentuk dalam cara positif, “menyatakan apa yang kita inginkan, tinimbang apa yang ingin kita hindari”
Kata kata “ aku ingin berhenti menangis”, ini yang ingin kita hindari,
dalam afirmasi, kata kata yang muncul adalah bukan“ aku ingin berhenti
menangis” tapi “aku bergembira” :….positif.
Bandingkan :” aku ingin berhenti berdusta!” ini keinginan.
Afirmasi positif :”Aku selalu menyatakan kebenaran!”
Jadi afirmasi selalu dalam bentuk kala sekarang ( present tense ),
seolah olah anda telah memiliki apa yang sedang anda cari, menerima
pengabulan doa anda,” ( ).
Ketika Paulus mengalami up down kehidupanya, gagal suksesnya hidup,
cahaya dan redupnya bintang hidupnya, naik turunnya kehidupan. Apa yang
dia afirmasikan :” Segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang
member kekuatan kepadaku” ( Fil 4 : 13 ), ini adalah afirmasi yang
sangat popular. Holy field, petinju kelas berat, sangat takut menghadapi
tank mini, Mike Tyson, dalam ketakutanya ia memakai sabuk bertuliskan
ayat di atas dan nyatanya ia selalu menang, sampai sampai saking
jengkelnya Tyson menggigit telinga Holyfield.
Norman Vincent Peale, mengingat perjalanan mobil bersama seorang
wiraniaga yang memiliki koleksi kartu berisi kutipan ayat ayat Kitab
Suci. Ia menaruh satu kartu dibawah jepitan panel instrument, sehingga
ia dapat bermeditasi dan memikirkannya sambil berkendaraan menuju
pertemuan lain. Dari seorang pemikir negative yang hanya menghasilkan
sedikit penjualan, ia menjadi seorang wiraniaga yang sukses sekaligus
membangun jalan hidup yang kuat.
Bagaimana mungkin ia dapat gagal, kalau ternyata, ia terus menerus
dikenai afirmasi “ Sesungguhnya sekiranya kamu memiliki iman…..takkan
ada yang mustahil bagimu “ ( Mat 17 : 20 ) dan “Jika Allah dipihak kita,
siapakah yang akan melawan kita ?” ( Rom 8 : 31 ).
Saudara yang kekasih,
Kalau kita sedang menghadapi hari hari yang suram, karena “ditinggal”
kekasih kita, jangan kita katakana :” Aku tidak cukup baik, sehingga
sepantasnya aku menerima ini !”, bukan dan jangan kata kata ini, tapi
katakan”
“aku tahu dan percaya Allah mengasihi aku!”
“aku berharga untuk segala sesuatu yang terbaik!”
“aku menciptakan kegembiraan, kemanapun aku pergi!”
“aku pantas memperoleh yang terbaik”
Amin,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar