Rabu, 08 Agustus 2012

Keajaiban Memberi

YOHANES 6 : 1 – 14
Saudara kekasih Tuhan,
Di dunia ada hokum yang paten, yang disebut : hokum tabor –tuai, aksi reaksi, memberi –menerima. Namanya hokum, pastinya ada. Tidak ada orang “menuai” tanpa pernah“menabur”. Tidak ada “reaksi” tanpa pernah ada “aksi”, begitu pula tak pernah kita “menerima” tanpa pernah“memberi”.
Kalau ingin memiliki perkawinan yang bahagia, maka tidak ada cara lain selain memberi energy positif dan menyingkirkan semua energy negative atau bahkan memberikan kekuatan. Khan begitu rumusnya ?
Bagaimana kita ingin “suami-istri” mampu berkarier dengan baik, memiliki kinerja yang dapat diharapkan, tapi kita tidak pernah memberikan : pujian dan hormat, serta dukungan positif. Yang ada hanya : keluhan, kekecewaan dan cacian. Setiap pulang dari kantor, pasang wajah yang tidak bersahabat, seolah olah ketemu musuh. Tapi kok minta perkawinan yang bahagia. Ini nonsense !
Kalau kita ingin anak remaja kita bertumbuh menjadi anak yang lebih menyenangkan dan mau terbuka dengan orang tua, maka tidak ada jalan lain bagi orang tua untuk memberi pengertian, menjadi orang tua yang lebih berempati, lebih memberikan kasih sayang.
Tidak bisa kita minta anak berpengertian, tapi orang tua tak mau mengerti anak. Tidak bisa orang tua menuntut anak terbuka dengan orang tua, tapi orang tua menutup diri bagi si anak. Tidak mau cerita “kesulitan” dan “harapan harapan” orang tua. Anak akan merasa dihargai, bila ia berharga dihadapan orang tua.
Kalau kita ingin memiliki ruang gerak yang lebih besar dalam pekerjaan, maka tak ada jalan lain selain mau menjadi karyawan yang mau membantu dan memberikan sokongan, bahkan kontribusi pekerjaan yang melebihi tanggung jawab dalam kantor.
Coba, bila di kantor ataupun di areal kita “rela” melakukan hal hal yang “melebihi” tanggung jawab kita, memberikan bantuan dan dukungan pada kawan kawan karyawan lainnya, saya yakin kita sedang menabur benih kebaikan, yang akan kita tuai pada waktunya. Kita sedang berinvestasi pada kehidupan yang akan datang.
Inilah yang disebut hokum tabur tuai, memberi-menerima, dalam fisika aksi reaksi.
Ada orang bijak, Ramana Maharshi mengatakan,” Semua yang diberikan seseorang pada orang lain diberikannya untuk diri sendiri, jika kebenaran ini dipahami, siapa yang tidak akan memberi pada orang lain”.
Jadi, semua yang kita berikan pada orang lain : entah itu senyum, semangat, harapan, doa, tenaga, pengertian, pengetahuan, masakan itu semua adalah untuk diri kita sendiri. Untuk kebahagiaan kita.
Dunia psikologi menemukan bukti yang mengejutkan yang mendukung klaim iman atas faedah memberi, dengan menyimpulkan bahwa,” Orang yang dermawan cenderung lebih bahagia dan secara psikologis lebih sehat dari individu yang egois dan mengalami “keinginan membantu”.
Alangkah puas dan bahagia menutup mata, bila ia telah menginvestasikan kebaikan kebaikan dalam hidup. Tak ada yang disesali, tak ada yang diratapi. Namun kalau ada sesuatu yang masih “sisa”, ini yang menghukum dirinya, mengganjal hidupnya, menjadi “penyesalan” sepanjang hidup.
Mengambil waktu untuk membuat orang lain bahagia, membuat kita merasa lebih baik daripada membaktikan semua yang kita miliki untuk kesenangan diri kita sendiri. Karena saat kita berbagi, entah itu yang namanya : milik, waktu, energy, pikiran, ide bahkan makanan, kita sedang memperlonggar rantai berat dari keserakahan, ego, iri, dengki dan takut kehilangan. Sebaliknya di saat itu, kita sedang menambah energy kebaikan pada diri, kebahagiaan bisa berbagi, rasa plong melepaskan ego.
Coba perhatikan, kalau kita memikirkan kebahagiaan orang lain, maka pertama tama pemikiran kebahagiaan itu mengisi pikiran kita sendiri dulu. Tak mungkin kita memikirkan kebahagiaan orang lain tapi kita tak bahagia. Hanya orang yang bahagia, ingin berbagi kebahagiaan pada orang lain. Karena ia ngalami, merasakan keindahan, jadi ia merasa “wajib” membagikan. Beda dengan orang yang “dengki” dan “dendam” maka pasti pikiran mereka dipenuhi oleh kemarahan sebelum kita melepaskan pada orang lain.
Kisah pemberian makan 5000 laki laki belum termasuk perempuan dan anak anak, dengan 5 roti dan 2 ikan,  mengajarkan kembali pada kita mujizat pemberian, keajaiban memberi. Kebutuhanya segudang, 5000 lebih manusia, keadaan darurat, pelik : berada di tempat sunyi, jauh dari pusat perdagangan dan hanya ada satu anak kecil yang membawa 5 roti jelai dan 2 ikan, semua serba mini, serba sedikit, kecil. Kesimpulan matematik : tak mungkin menyelesaikan soal darurat yang besar ini.
Ini pikiran manusia, yang diwakili Filipus,” Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing masing mendapat sepotong kecil saja” ( ayat 7 ). Ini pikiran logis, masuk akal sehat. Filipius sudah berhitung dengan cermat, andaikata 200 dinar, upah 200 kerja/ hari saja, dikumpulkan untuk membeli roti, sekalipun orang hanya mendapat sepotong potong tidak akan cukup.
Tidak salah bila dia menyampaikan hasil perhitungan seperti itu.
Tapi itu “sudut pandang” manusia, itu adalah kalkulator, hasil “hitung-hitungan” manusia. Benar secara matematik, angkawi tapi Tuhan punya matematik sendiri. Tuhan punya “hitung hitungan” sendiri. Bagi manusia 5 roti dan 2 ikan hasilnya nonsense untuk 5 ribu pria, belum perempuan dan anak anak. Bahkan kalau “saweran” ngumpulkan dana dan terkumpul 200 dinar saja, masih mustahil.
Kadang kita begitu, mengandalkan “perhitungan” manusia. Mudah sekali kita mengatakan “tidak mungkin!” atau “mustahil Tuhan, kita harus realistis!”. Akibatnya apa ? Banyak ketidakmungkinan yang terjadi dalam hidup kita, banyak kemustahilan yang muncul dalam hidup kita, karena kita memakai sudut pandang “tidak mungkin!” atau “mustahil”.
Tidak mungkin, karena itulah yang kita pikirkan. Mustahil, itulah yang kita katakan. Tak heran ketidak mungkinan dan kemustahilan yang kita dapatkan, karena itu yang kita cari, itu yang kita gemakan, itu yang kita inginkan.
Beda dengan : iman.
Dunia iman berangkat dari “mungkin”, iman selalu yakin bahkan pada hal yang dianggap : mustahil sekalipun. Dalam iman seperti inilah kerap kali kita mengalami hal hal dianggap “tidak mungkin”, hal hal “yang mustahil” tiba tiba jadi kenyataan.
Karena apa ? Karena iman itu percaya pada “kemungkinan”, iman itu yakin pada yang mustahil sekalipun. Ketika dokter angkat tangan : menyerah dengan penyakit, iman justru naik kepada Tuhan dan percaya pada kemungkinan sembuh.
Ini yang ada pada diri si anak kecil, dia membawa 5 roti dan 2 ikan. Tapi dia mau serahkan pada Tuhan. andreas salah satu murid Yesus menemukan anak ini, katanya,” Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini ?” ( ayat 9 ). Andreas menemukan anak kecil, membawa barang sedikit, yang ternyata bersedia untuk diserahkan pada Yesus.
Kadang kita merasa “minder”, atau “malu” kalau hanya bisa memberi “sedikit” bahkan tidak jarang ada yang “mbolos” ibadah ketika tak ada yang diberikan. Kerap kita merasa “malu” kalau tidak punya “baju” bagus untuk ikut kebaktian, sering juga merasa “kecil hati” bila mau menyumbangkan sesuatu yang tidak berarti.
Kita lupa pada keajaiban memberikan si anak kecil, dengan pemberian serba sedikit 5 roti dan 2 ikan ini. Yaitu, tatkala ia serahkan pada tangan Tuhan, yang kecil dan sedikit berubah menjadi besar dan bermanfaat banyak bagi banyak orang. 5 ribu laki laki belum termasuk perempuan dan anak anak.
Yang dibutuhkan Tuhan ternyata bukanlah “besar” atau “kecil”, tapi “penyerahan” pada tangan Tuhan, yaitu iman itu sendiri. Iman inilah yang menjadikan yang “sedikit” jadi banyak. Iman inilah juga yang membuat masalah ruwet, jadi sederhana.
Sayangnya banyak orang justru focus pada : masalah, bukan Tuhan. mungkin benar, masalah kita itu ruwet dan rumit, tapi iman yakin bahwa Tuhan lebih besar dari masalah kita. Memang benar, perhitungan itu logis dan perlu, tapi hidup kita tidak selalu diatas hitungan tapi transrasional, mengatasi rasio, melebihi akal.
Yang penting adalah : penyerahan pada Tuhan. Ini Tuhan : bakatku, yang aku punya, yang aku bisa, yang aku miliki, hanya sederhana, 5 roti, dan 2 ikan.
Oh, tidak apa, yang penting  serahkan padaKu, itu cukup ! Karena engkau mau jadi berkat, maka engkau diberkati.
Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar