Minggu, 12 Agustus 2012

DIA ADA DI MANA MANA

YOHANES 20 : 19 – 31
Saudara yang berkehendak baik,
Pernah ketakutan ? Kalau pernah, bersyukurlah ! Sebab itu berarti “syaraf takut” kita masih berfungsi dengan baik. “alarm tsunami” kita masih “normal”. Yang menakutkan justru ketika “alarm tsunami” kita jebol, dan jeblok, tidak berfungsi dengan baik, padahal pada saat itu harus “bunyi”. 
Ini yang terjadi di Aceh, pada hari Rabu, 11 April 2012 yang lalu. Dari Sembilan alarm tsunami, yang berfungsi Cuma : 4. Astaganaga ! sangat menakutkan dan sangat mengerikan, bila peristiwa tahun 2004 terulang kembali. Sangat menakutkan ! pasti “akan” banyak jatuh korban.
Pada satu sisi, saudara, orang perlu punya rasa takut dan perlu “takut”, supaya bisa waspada dan siaga bila ada bahaya. Bila “tsunami hidup” datang, menerjang, menghantam, menghancur leburkan “bangunan” kita. Bila tiba tiba “penyakit’ akut “menempel” di tubuh kita, bila “kematian” menghampiri kekasih kita, bila “PHK” memecat kita.
Ini perlu, supaya kita hidup “sehat”, baik “cara hidupnya” yang bijak : bisa menabung, mengumpulkan sedikit demi sedikit, untuk bekal kelak. Karena hidup kita cepat sekali perubahannya. Jangan kita berfikir :”akh, masih lama, nikmati saja yang ada sekarang ini” Lalu hidupnya sembarangan dan serampangan. Beli ini, beli itu, yang mungkin tidak kita butuhkan.

Jangan kaget saudara, kalau “20-30” tahun, sesungguhnya tidak terlalu panjang. Kalau dihitung ke depan sich memang : lama amat! Tapi kalau di jalani ? Wow, tiba tiba sudah ikut daftar “jalan jalan” yang artinya : tinggal setahun lagi.
Ya, kalau sudah siap : punya kebun, punya usaha, atau anak anak anak sudah selesai kuliah dan tinggal bekerja. Mungkin agak ringan bebannya. Tapi kalau “tidak siap” ? Hidup dari apa yang ada hari ini, padahal : hidup masih panjang, dan biaya hidup dengan usia kita yang semakin lanjut, itu semakin tinggi. Badan sudah banyak yang aus, jantung sudah mulai “genit’ minta di cincin; ginjal sudah mulai “capai”, minta dicuci biar fresh, paru paru sudah mulai boloten, karena terlalu banyak “nikotin” akibat rokok; pancreas sudah tidak maskimal bekerjanya, sehingga kita punya “pabrik gula”, yang kalau tidak dikelola dengan baik, akan menimbulkan dampak bagi organ tubuh yang lain.
Orang perlu : takut dan boleh takut di sini. Gunanya : supaya kita tidak lengah, berleha leha serta supaya tidak hidup semau gue. Takut di sini adalah natural, dan berharga dan punya peranan vital karena memperingatkan kita akan bahaya.
Eling lain waspada, kata orang tua kita.
Tapi dan ini yang penting, adalah bila kita punya takut pada hal yang sesungguhnya “tidak menakutkan”, takut pada hal yang “tidak berbahaya”, tetapi punya pengaruh yang “menakutkan” dan “membahayakan”, yaitu takut pada takut itu sendiri.
Ini ketakutan yang membahayakan.
Bayangkan pohon besar dalam gelapnya malam dikiranya : hantu. Di Padang Gurun, ketika angin kencang datang, maka orang mudah mendengar “suara suara” akibat “kencangnya angin” itu, tapi orang yang takut mengira itu suara “arwah penasaran” yang mati di padang gurun.
Akibat akibat ketakutan itu dahsyat sekali :
Takut pada pesawat, membuat orang tidak mau terbang. Apalagi bila ada “kecelakaan” pesawat. Ini akan membuat dia membenarkan “ketakutannya”, padahal statistic menunjukkan bahwa kendaraan paling aman justru pesawat. Kalau ada kecelakaan itu, prosentasikan amat kecil, yang besar adalah beritanya. Lain dengan travel atau bus, banyak kecelakaan tapi beritanya tidak sehebat dan sedahsyat pesawat.
Takut gagal, maka seseorang tak pernah mencoba. Padahal hanya mereka yang “tidak takut” gagal itu yang punya kesempatan “berhasil” dan sebaliknya, orang yang “takut gagal” dan karena itu tak berani mencoba sesuatu, ia adalah orang yang tidak punya “kesempatan”, ia tak akan pernah “sukses”. Bagaimana ia mau berhasil kalau tidak berani “mencoba sesuatu”.
Orang orang besar, penemu penemu raksasa di dunia adalah orang orang yang paling banyak menghadapi kegagalan, bedanya, mereka tidak mau berhenti hanya karena gagal, tapi mereka bangkit dan melanjutkan “perjalanannya” sekali lagi. Mereka mencoba lagi, mencoba lagi. Mereka adalah orang yang “tidak takut gagal” dan di pundak mereka : sukses sudah menanti.
Orang takut patah hati, ya tidak akan dapat cinta. Takut cerai, ya tidak akan pernah nikah. Kalau kepengin dapat cinta, apalagi cinta sejati, ya harus siap patah hati. Kecuali “cinta palsu’ atau “cinta timbangan”, itu bisa dibeli dengan uang. Tapi itu “palsu”. Ok dengan cintanya, kalau masih ada fulusnya, tapi kalau bangkrut : ya cintanya melayang.
Tetapi perhatikan letak bahayanya pada takut yang “menakutkan” ini ! Apakah ini “normal” atau “abnormal?” ini “factual” atau “bayangan” kita ?
Mungkin kita takut kecelakaan pesawat, atau mungkin juga kita takut kehilangan orang orang yang kita kasihi atau takut PHK ! Sekarang coba kita refleksikan :
Apa itu kecelakaan real ? Kematian real ? PHK real ? Inikah yang membuat kita “takut?”
Coba kita perhatikan dengan tenang, pikiran jernih, hati yang bening !
Bukankah sesungguhnya kita takut pada “fantasi” kita ? Pada apa yang kita “bayangkan” bisa terjadi ?! Bukankah ketakutan ini selalu tempatnya di masa depan, bukan di masa kini. Ia hanya ada dalam dunia “fantasi” kita ! Sesuatu yang “belum terjadi” dan amat sangat mungkin “tidak terjadi”.
Orang yang dipenuhi ketakutan, tidak mampu berfikir rasional bahkan bisa sangat irasional.
Itulah yang terjadi pada minggu sesudah paska.
Murid murid Yesus dipenuhi ketakutan. Akibatnya apa ? Musuh terlihat di mana mana. Tak ada tempat bagi rasa aman apalagi nyaman. Seolah olah semua dinding “bertelinga” dan semua “lubang” adalah mata.
Ketakutan saudara, membuat orang “mengurung diri”, hidup “di dunianya” sendiri. Tidak suka bergaul apalagi “membuka diri”, sebab “membuka diri” amat menakutkan. Orang lain, apalagi yang tidak se-ide, se-paham, se-iman : tidak mudah dipercaya.
Kadang kadang kita “bisik bisik” kalau membicarakan “orang beragama lain”, padahal tidak ngrasani. Lagi cerita : misalnya teroris. Kita tidak bicara soal : agama, tapi aksi terror, tapi kalau ada orang beragama tertentu kita “bisik bisik”.
Mereka sedang berada di dunia “masa depan”, tubuh, fikiran, waktu mereka meleset jauh ke depan, tempat yang belum mereka injak, saat yang belum mereka jelajahi, beban yang belum mereka pikul, tapi seolah olah semua begitu nyata.
Di saat itulah Yesus hadir, tanpa ketukan pintu, tanpa perusakan palang pintu. Hadir menembus pintu, di tengah tengah rasa takut para murid, di tengah tengah mereka kehilangan rasa percaya diri, di tengah tengah mereka goncang dan goyah karena sandaran mereka telah tiada : Yesus hadir.
Dan tidak cuma hadir, tapi juga memberikan kekuatan melalui hembusan Roh Kudus. Memberikan “siraman rohani”, memberikan “peneguhan” bahwa mereka tidak sendiri dan tidak sendirian. Tuhan mengerti betul, bahwa mereka takut dan oleh karena itu IA hadir. Tuhan tahu benar, mereka kehilangan rasa percaya diri, karena itu mereka diberkati, dibekali dengan Roh Kudus, dipenuhi, disirami oleh Roh Kudus.
Apa artinya di hembusi oleh Roh Kudus ?
Ketika Allah menciptakan manusia, maka Allah menghembusi manusia dengan nafasNYA, dan di saat itulah : manusia itu hidup. ( Kej ), dengan demikian, ketika para murid menerima hembusan Roh Kudus, penciptaan seolah terulang kembali. Kalau dulu membuat manusia yang tertidur, bernyawa dan hidup, maka kini, hembusan roh kudus menjadikan para murid yang takut, berani keluar dari ruang tertutup, berani keluar dari kepompong ketakutan mereka. Menjadikan mereka orang orang yang punya rasa “percaya diri”, membuat mereka orang orang yang berkarya, mengabdikan hidup, bakat, talenta mereka kepada kemuliaan Tuhan.
Tak terkecuali Tomas, yang semula ragu dengan kesaksian para sahabatnya, ketika mendapat kesempatan berjumpa dengan Tuhan, dan melihat bukti kebangkitan kristus, dari mulutnya, lahirlah pengakuan iman yang paling awal dari pengakuan iman rasuli kita ” Ya Tuhanku dan Allahku”
Saudara yang kekasih,
Apa pelajaran dari pengalaman para murid Yesus ? Bukankah kita, gereja, juga kerap dihantui oleh rasa takut. Mau berbuat ini : takut, mau berbuat itu : tidak berani. Sampai kerap kali aksi kita sangat artificial. Kelihatannya aksi, tapi : dangkal, seolah olah. Hanya karikatur saja, bukan yang sejati.
Apa bukan ini ?
Kadang gereja di negeri ini, malah mengambil “posisi aman” dan oleh karena itu “diam” dengan adanya carut marutnya negeri. Gereja kerap kali menikmati kesendiriannya.
Ada cerita begini saudara :
Tuhan Yesus, sebagai Kepala gereja ingin sekali dating ke bumi untuk melihat sendiri perihal gereja yang bertanmbah besar. Ibadah berjalan dengan enak, kotbah menarik, musiknya luar biasa. Selesai ibadah Yesus turun, dengan kagum IA menyalami beberapa orang, sambil berkata :” Wahai, anak anakKU, AKUlah Yesus yang kamu sembah!”
Pengunjung beraksi keras, mereka meminta penatua mengusir orang “gila” itu. Yesus sedih dan pergi ke sebuah gerja kecil di desa. Ibadah berjalan sederhana tapi khusuk dan mengharukan. Yesuspun memperkenalkan DIRINYA. Kembali reaksi penolakan terjadi.
Pendeta membawa Yesus ke konsistori, menyembah Yesus sambil berkata :” Tuhanku…!” Yesus gembira dan berkata :” Apakah engkau mengenal AKU ?” Pendeta menganggukan kepala. Lalu Yesus kembali mengatakan “Kalau begitu beritahu siapa AKU pada mereka !”
Dengan penuh ketakutan pendeta itu berkata :” Yesus, maafkan aku. Kalau mereka tidak percaya pada apa yang kukatakan, mereka akan mencari gereja lain. Lalu gereja ini akan kosong. Lalu aku makan apa ?”
Saudara,
Ketakutan kadang melemahkan bahkan kadang menghancurkan iman kita. Kita hanya memikirkan ketakutan kita, tapi lupa bahwa Tuhan Yesus telah bangkit dan hadir dalam ketakutan ketakutan kita.
Saudara takut ?
Jangan takut lagi, AKU menyertai engkau, dan tidak akan pernah meninggalkan engkau. ( Ibrani 13 : 5.a ).
Amin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar