YOHANES 20 : 19 – 31
Saudara yang berkehendak baik,
Pernah ketakutan ? Kalau pernah, bersyukurlah ! Sebab itu berarti
“syaraf takut” kita masih berfungsi dengan baik. “alarm tsunami” kita
masih “normal”. Yang menakutkan justru ketika “alarm tsunami” kita
jebol, dan jeblok, tidak berfungsi dengan baik, padahal pada saat itu
harus “bunyi”.
Ini yang terjadi di Aceh, pada hari Rabu, 11 April 2012 yang lalu. Dari
Sembilan alarm tsunami, yang berfungsi Cuma : 4. Astaganaga ! sangat
menakutkan dan sangat mengerikan, bila peristiwa tahun 2004 terulang
kembali. Sangat menakutkan ! pasti “akan” banyak jatuh korban.
Pada satu sisi, saudara, orang perlu punya rasa takut dan perlu “takut”,
supaya bisa waspada dan siaga bila ada bahaya. Bila “tsunami hidup”
datang, menerjang, menghantam, menghancur leburkan “bangunan” kita. Bila
tiba tiba “penyakit’ akut “menempel” di tubuh kita, bila “kematian”
menghampiri kekasih kita, bila “PHK” memecat kita.
Ini perlu, supaya kita hidup “sehat”, baik “cara hidupnya” yang bijak :
bisa menabung, mengumpulkan sedikit demi sedikit, untuk bekal kelak.
Karena hidup kita cepat sekali perubahannya. Jangan kita berfikir :”akh,
masih lama, nikmati saja yang ada sekarang ini” Lalu hidupnya
sembarangan dan serampangan. Beli ini, beli itu, yang mungkin tidak kita
butuhkan.
Jangan kaget saudara, kalau “20-30” tahun, sesungguhnya tidak terlalu
panjang. Kalau dihitung ke depan sich memang : lama amat! Tapi kalau di
jalani ? Wow, tiba tiba sudah ikut daftar “jalan jalan” yang artinya :
tinggal setahun lagi.
Ya, kalau sudah siap : punya kebun, punya usaha, atau anak anak anak
sudah selesai kuliah dan tinggal bekerja. Mungkin agak ringan bebannya.
Tapi kalau “tidak siap” ? Hidup dari apa yang ada hari ini, padahal :
hidup masih panjang, dan biaya hidup dengan usia kita yang semakin
lanjut, itu semakin tinggi. Badan sudah banyak yang aus, jantung sudah
mulai “genit’ minta di cincin; ginjal sudah mulai “capai”, minta dicuci
biar fresh, paru paru sudah mulai boloten, karena terlalu banyak
“nikotin” akibat rokok; pancreas sudah tidak maskimal bekerjanya,
sehingga kita punya “pabrik gula”, yang kalau tidak dikelola dengan
baik, akan menimbulkan dampak bagi organ tubuh yang lain.
Orang perlu : takut dan boleh takut di sini. Gunanya : supaya kita tidak
lengah, berleha leha serta supaya tidak hidup semau gue. Takut di sini
adalah natural, dan berharga dan punya peranan vital karena
memperingatkan kita akan bahaya.
Eling lain waspada, kata orang tua kita.
Tapi dan ini yang penting, adalah bila kita punya takut pada hal yang
sesungguhnya “tidak menakutkan”, takut pada hal yang “tidak berbahaya”,
tetapi punya pengaruh yang “menakutkan” dan “membahayakan”, yaitu takut
pada takut itu sendiri.
Ini ketakutan yang membahayakan.
Bayangkan pohon besar dalam gelapnya malam dikiranya : hantu. Di Padang
Gurun, ketika angin kencang datang, maka orang mudah mendengar “suara
suara” akibat “kencangnya angin” itu, tapi orang yang takut mengira itu
suara “arwah penasaran” yang mati di padang gurun.
Akibat akibat ketakutan itu dahsyat sekali :
Takut pada pesawat, membuat orang tidak mau terbang. Apalagi bila ada
“kecelakaan” pesawat. Ini akan membuat dia membenarkan “ketakutannya”,
padahal statistic menunjukkan bahwa kendaraan paling aman justru
pesawat. Kalau ada kecelakaan itu, prosentasikan amat kecil, yang besar
adalah beritanya. Lain dengan travel atau bus, banyak kecelakaan tapi
beritanya tidak sehebat dan sedahsyat pesawat.
Takut gagal, maka seseorang tak pernah mencoba. Padahal hanya mereka
yang “tidak takut” gagal itu yang punya kesempatan “berhasil” dan
sebaliknya, orang yang “takut gagal” dan karena itu tak berani mencoba
sesuatu, ia adalah orang yang tidak punya “kesempatan”, ia tak akan
pernah “sukses”. Bagaimana ia mau berhasil kalau tidak berani “mencoba
sesuatu”.
Orang orang besar, penemu penemu raksasa di dunia adalah orang orang
yang paling banyak menghadapi kegagalan, bedanya, mereka tidak mau
berhenti hanya karena gagal, tapi mereka bangkit dan melanjutkan
“perjalanannya” sekali lagi. Mereka mencoba lagi, mencoba lagi. Mereka
adalah orang yang “tidak takut gagal” dan di pundak mereka : sukses
sudah menanti.
Orang takut patah hati, ya tidak akan dapat cinta. Takut cerai, ya tidak
akan pernah nikah. Kalau kepengin dapat cinta, apalagi cinta sejati, ya
harus siap patah hati. Kecuali “cinta palsu’ atau “cinta timbangan”,
itu bisa dibeli dengan uang. Tapi itu “palsu”. Ok dengan cintanya, kalau
masih ada fulusnya, tapi kalau bangkrut : ya cintanya melayang.
Tetapi perhatikan letak bahayanya pada takut yang “menakutkan” ini !
Apakah ini “normal” atau “abnormal?” ini “factual” atau “bayangan” kita ?
Mungkin kita takut kecelakaan pesawat, atau mungkin juga kita takut
kehilangan orang orang yang kita kasihi atau takut PHK ! Sekarang coba
kita refleksikan :
Apa itu kecelakaan real ? Kematian real ? PHK real ? Inikah yang membuat kita “takut?”
Coba kita perhatikan dengan tenang, pikiran jernih, hati yang bening !
Bukankah sesungguhnya kita takut pada “fantasi” kita ? Pada apa yang
kita “bayangkan” bisa terjadi ?! Bukankah ketakutan ini selalu tempatnya
di masa depan, bukan di masa kini. Ia hanya ada dalam dunia “fantasi”
kita ! Sesuatu yang “belum terjadi” dan amat sangat mungkin “tidak
terjadi”.
Orang yang dipenuhi ketakutan, tidak mampu berfikir rasional bahkan bisa sangat irasional.
Itulah yang terjadi pada minggu sesudah paska.
Murid murid Yesus dipenuhi ketakutan. Akibatnya apa ? Musuh terlihat di
mana mana. Tak ada tempat bagi rasa aman apalagi nyaman. Seolah olah
semua dinding “bertelinga” dan semua “lubang” adalah mata.
Ketakutan saudara, membuat orang “mengurung diri”, hidup “di dunianya”
sendiri. Tidak suka bergaul apalagi “membuka diri”, sebab “membuka diri”
amat menakutkan. Orang lain, apalagi yang tidak se-ide, se-paham,
se-iman : tidak mudah dipercaya.
Kadang kadang kita “bisik bisik” kalau membicarakan “orang beragama
lain”, padahal tidak ngrasani. Lagi cerita : misalnya teroris. Kita
tidak bicara soal : agama, tapi aksi terror, tapi kalau ada orang
beragama tertentu kita “bisik bisik”.
Mereka sedang berada di dunia “masa depan”, tubuh, fikiran, waktu mereka
meleset jauh ke depan, tempat yang belum mereka injak, saat yang belum
mereka jelajahi, beban yang belum mereka pikul, tapi seolah olah semua
begitu nyata.
Di saat itulah Yesus hadir, tanpa ketukan pintu, tanpa perusakan palang
pintu. Hadir menembus pintu, di tengah tengah rasa takut para murid, di
tengah tengah mereka kehilangan rasa percaya diri, di tengah tengah
mereka goncang dan goyah karena sandaran mereka telah tiada : Yesus
hadir.
Dan tidak cuma hadir, tapi juga memberikan kekuatan melalui hembusan Roh
Kudus. Memberikan “siraman rohani”, memberikan “peneguhan” bahwa mereka
tidak sendiri dan tidak sendirian. Tuhan mengerti betul, bahwa mereka
takut dan oleh karena itu IA hadir. Tuhan tahu benar, mereka kehilangan
rasa percaya diri, karena itu mereka diberkati, dibekali dengan Roh
Kudus, dipenuhi, disirami oleh Roh Kudus.
Apa artinya di hembusi oleh Roh Kudus ?
Ketika Allah menciptakan manusia, maka Allah menghembusi manusia dengan
nafasNYA, dan di saat itulah : manusia itu hidup. ( Kej ), dengan
demikian, ketika para murid menerima hembusan Roh Kudus, penciptaan
seolah terulang kembali. Kalau dulu membuat manusia yang tertidur,
bernyawa dan hidup, maka kini, hembusan roh kudus menjadikan para murid
yang takut, berani keluar dari ruang tertutup, berani keluar dari
kepompong ketakutan mereka. Menjadikan mereka orang orang yang punya
rasa “percaya diri”, membuat mereka orang orang yang berkarya,
mengabdikan hidup, bakat, talenta mereka kepada kemuliaan Tuhan.
Tak terkecuali Tomas, yang semula ragu dengan kesaksian para sahabatnya,
ketika mendapat kesempatan berjumpa dengan Tuhan, dan melihat bukti
kebangkitan kristus, dari mulutnya, lahirlah pengakuan iman yang paling
awal dari pengakuan iman rasuli kita ” Ya Tuhanku dan Allahku”
Saudara yang kekasih,
Apa pelajaran dari pengalaman para murid Yesus ? Bukankah kita, gereja,
juga kerap dihantui oleh rasa takut. Mau berbuat ini : takut, mau
berbuat itu : tidak berani. Sampai kerap kali aksi kita sangat
artificial. Kelihatannya aksi, tapi : dangkal, seolah olah. Hanya
karikatur saja, bukan yang sejati.
Apa bukan ini ?
Kadang gereja di negeri ini, malah mengambil “posisi aman” dan oleh
karena itu “diam” dengan adanya carut marutnya negeri. Gereja kerap kali
menikmati kesendiriannya.
Ada cerita begini saudara :
Tuhan Yesus, sebagai Kepala gereja ingin sekali dating ke bumi untuk
melihat sendiri perihal gereja yang bertanmbah besar. Ibadah berjalan
dengan enak, kotbah menarik, musiknya luar biasa. Selesai ibadah Yesus
turun, dengan kagum IA menyalami beberapa orang, sambil berkata :”
Wahai, anak anakKU, AKUlah Yesus yang kamu sembah!”
Pengunjung beraksi keras, mereka meminta penatua mengusir orang “gila”
itu. Yesus sedih dan pergi ke sebuah gerja kecil di desa. Ibadah
berjalan sederhana tapi khusuk dan mengharukan. Yesuspun memperkenalkan
DIRINYA. Kembali reaksi penolakan terjadi.
Pendeta membawa Yesus ke konsistori, menyembah Yesus sambil berkata :”
Tuhanku…!” Yesus gembira dan berkata :” Apakah engkau mengenal AKU ?”
Pendeta menganggukan kepala. Lalu Yesus kembali mengatakan “Kalau begitu
beritahu siapa AKU pada mereka !”
Dengan penuh ketakutan pendeta itu berkata :” Yesus, maafkan aku. Kalau
mereka tidak percaya pada apa yang kukatakan, mereka akan mencari gereja
lain. Lalu gereja ini akan kosong. Lalu aku makan apa ?”
Saudara,
Ketakutan kadang melemahkan bahkan kadang menghancurkan iman kita. Kita
hanya memikirkan ketakutan kita, tapi lupa bahwa Tuhan Yesus telah
bangkit dan hadir dalam ketakutan ketakutan kita.
Saudara takut ?
Jangan takut lagi, AKU menyertai engkau, dan tidak akan pernah meninggalkan engkau. ( Ibrani 13 : 5.a ).
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar