MOS 7 : 7 - 15.
Pernah lihat orang yang pesimis ? ia bisa membuat lumpuh dan putus asa
hidup kita. Karena yang keluar adalah : gerutuan dan keluhan. Apa yang
di-gerutukan dan dikeluhkan ? Hampir segala hal dan segala sesuatu.
Perhatikan expresi dan wajah orang yang dipenuhi gerutuan itu :
KENINGNYA penuh kerut kerut yang permanen. Otot otot wajah dan lehernya
begitu kencang dan tegang, mirip batu karang. Gaya berjalannya lamban
dan lambat. Kepalanya selalu tertunduk, dan ia sangat gugup dan sibuk
berfikipir.
Apa sebab ? Apakah ia punya masalah dengan punggungnya ? Penyakit yang
melemahkan tubuhnya ? Oh, tidak, masalahnya adalah sesuatu yang lain. Ia
menyerahkan hidupnya pada hal yang tidak ada. Bahkan dapat dikatakan ia
ahli dalam hal ini. Apa yang ia keluhkan ? Segalanya !!
Ia mengeluh tentang keluarganya : pasangan hidupnya,
sikap maupun kesehatan pasanganya. Ia keluhkan kesehatannya sendiri,
meskipun keluhannnya menjadi penyebab terbesar dari penyakitnya. Ia
mengeluhkan cuaca buruk, yang selalu tampak menimpanya ketika ia pergi
dengan mobil ke suatu tempat tertentu. Ia mengeluhkan bosnya, yang ia
sebut sebagai orang yang tak dapat dipercaya. Ia mengeluhkan musim
kemarau dengan debu debu tebalnya dan musim hujan, dengan jalan yang
licin. Ia mengeluhkan anak anaknya yang “kuliah” di luar pulau.
Semua hal dilihat dari “kaca mata hitam”.
Hasilnya ? Gelap, tiada harapan, pesimis.
Bersama orang orang semacam ini, energy kita mudah terkuras. Ide ide
kita “mampat” membentur tembok; inspirasi kita tinggal di dunia impian.
Hasil kerja kita stagnan, mandeg.
Beda bila dekat dengan orang yang“0ptimis”.
Dekat mereka “battery” hidup kita selalu terisi, penuh. Karena mereka
memberikan suasana “dingin” jadi “hangat”, “beku” jadi “cair”, bahkan
ketika semua kehilangan ide, ia memberikan ide baru dan segar.
Inilah orang orang optimis.
Ada seorang actor yang pada mulanya sangat optimis. Tapi seiring
berjalannya waktu, angin perubahan membuat ia kuatir pula dengan masa
depannya. Kemudian ia pergi ke New York untuk mencari pekerjaan. Ia
masih segar dan bersemangat untuk meraih kesuksesan di sana. Ia memiliki
referensi yang bagus, berada di jalur yang baik dan siap menghadpi
tekanan dunia ini.
Tetapi ketika sampai di new York, faktanya tidak sama dengan impiannya.
Ia berkelana dari satu audisi ke audisi lainnya. Ada yang berjalan, yang
lainnya kurang. Ia duduk bermalas malasan, tunggu telpone kalau ada
panggilan, tapi manakala tak ada bunyi telpon berdering, ia mulai cemas
Seorang kawan memberikan advis,”kamu harus menyibukkan diri !”
“ sibuk apa ? Aku harus melakukan apa ?’
“Ya, sibuk apa saja, seperti apa yang kau inginkan. Ikutilah kursus,
tulislah naskah, berbicaralah kepada orang orang lain, berbagilah
gagasan. Jangan hanya duduk duduk menunggu panggilan. Pergilah keluar
dan sibukkan dirimu, dan nanti akan mulai terjadi sesuatu !”
Dan ia melakukannya.
Mengambil kursus, menjumpai orang orang dan berbicara tentang seni peran
dan teater sepanjang hari. Tidak lama kemudian ia memperhatikan semua
kegiatan baru ini menghentikan semua kekuatirannya.
Dan ternyata dengan jernih dan cerdas ia mendapati bahwa betapa banyak
peluang baru dan juga orang orang baru. Dan kemudian, banyak hal hal
baru ia dapatkan. Kini, ia lebih sering sibuk dan dicari cari.
Inilah rahasia dari sebuah karier yang diberkati dan yang telah
berlangsung beberapa decade. Dan apa yang kita pelajari, yaitu keluhan
itu tidak mengambil bagian dalam kesuksesan.
Jadi :
Optimis : Ambil tindakan, sibukkan diri anda. Anda akan terheran heran
bahwa seringkali selebihnya akan bergulir sendiri, keluhan dan gerutuan
tidak akan hadir lagi- karakter yang tidak punya peran lagi.
Apa yang terjadi ?
Ia memiliki iman.
Di sini pentingnya peran : iman.
Optimis : Yes,…………….. tapi yang benar !
Di jaman Amos, Israel Utara sedang stabil, kehidupan politik tenang,
tidak banyak huru hara. Asyur saat itu melemah sehingga Israel tidak
berada dibawah ancaman imperium raksasa. Pada masa itu banyak nabi dan
imam yang melontarkan nubuat bahwa Allah berkenan pada ibadah Israel dan
oleh karena itu , Allah melimpahkan kemakmuran pada Israel.
Optimis sekali.
Tapi fakta di lapangan “beda”, karena faktanya : ada ketimpangan social
yang sangat mencolok, ada ketidak-adilan yang begitu “telanjang” serta
hidup yang hipokrif, beda antara ucap dan tindak.
Memang ada orang yang sangat kaya raya, tapi itu karena hasil “kolusi”
antara “pengusaha” dan “penguasa”. Kelompok ini memiliki kekayaan yang
“tidak lumrah” dan tidak pernah merasa “kaya” sehingga mereka terdorong
untuk semakin menumpuk harta kekayaan. Celakanya jalan yang ditempuh
adalah : penindasan, penyalahgunaan wewenang dan jabatan, serta
kesalahan “tata kelola”.
Sementara sekelompok masyarakat lain berjalan terseok seok, hanya demi
mengganjal perut untuk sehari. Mereka malah sering menjadi korban dari
kaum bangsawan, pejabat dan orang orang kaya.
Amos ( dan Hosea yang sejaman ) melihat fakta ini, mereka prihatin dan
menyuarakan hal yang berbeda dengan : nabi dan imam di Israel Utara itu.
Bagi Amos, satu satunya dasar kehidupan umat adalah Perjanjian, yang
intinya adalah Penghormatan pada Allah dan memperlakukan sesame dengan
cinta kasih.
Oleh karena itu ketidak adilan social, penyalahgunaan wewenang dan
kekuasaan sehingga ada jurang “kaya miskin” yang tidak wajar, tidak
alami adalah “merusak” perjanjian itu.
Kaya miskin sebetulnya sich wajar dan sampai kiamat pun selalu akan ada
yang namanya “kaya dan miskin”, asal itu alami, wajar, memang hasil
keringat sendiri. Semua akan menerima, tapi kalau “tidak wajar”, entah
karena kedekatan dengan “bangsawan” atau “pejabat teras”, yang tidak
wajar dan alami, ini yahng membuat suasana jadi “beda”, bisa menimbulkan
“kasak kusuk”, yang akhirnya akan menimbulkan “instabilitas” masyarakat
itu, keharmonisan terganggu.
Dalam suatu visionNya, Allah memperlihatkan “tali sipat” ( ayat 7 ),
tali yang biasa dipakai tukang bangunan untuk mengukur dan melihat
apakah tembok yang dibangun itu sudah tegak lurus. Tembok yang tegak
lurus melambangkan “keadilan dan kebenaran “ Allah. Allah sendiri yang
akan meletakkan tali itu ditengah tengah umat Israel, artinya Allah
sendiri yang mengukur kehidupan Israel, apakah tegak lurus, sesuai
dengan firman dan perjanjian Allah atau tidak. dan tentu saja bila
tembok itu Nampak “miring” harusb dibongkar atau diruntuhkan dan
celakanya “tali sipat” itu miring, sehingga harus dibongkar dan
diruntuhkan. Ini tentu berita buruk bagi Israel, apalagi ancaman itu
digambarkan dengan jelas tentang kehancuran dua tonggak utama Israel (
ayat 9 ), yaitu bukit bukit pengorbanan dari Ishak ( peribadatan ) dan
keluarga Yerobeam ( Kerajaan ).
Keduanya : akan diruntuhkan. Baik “peribadatan” yang semu, maupun “kekuasaan” yang disalah-gunakan.
Kotbah semacam ini tentu membuat orang yang terlibat “panas kupingnya”
mereka merasa “terganggu” hatinya, oleh karena itu Amazia, Imam di
Kerajaan itu, setelah melaporkan “provokasi” Amos, dia bertindak atas
nama Kerajaan, untuk mendeportasi nabi Allah : Amos.
Dalam ayat 12- 13 ,dikatakan “ Pelihat, pergilah! Enyahlah ke YEHUDA!
Carilah makananmu di sana, tetapi jangan lagi bernubuat di Betel, sebab
inilah tempat kudus raja, inilah bait suci kerajaan”
Ini biasa dan selalu terjadi di mana mana ! Suara orang “baik”, nada
yang “benar” hanya menjadi “gangguan” dalam irama ketidak serasian. Bila
ada orang “mengingatkan” akan hal hal yang “tidak benar”, bisa jadi ia
dimusuhi.
Amos nasibnya juga begitu, ia dideportasi supaya “pergi ke Yehuda” yaitu
Israel Selatan, karena “kotbahnya” tidak seirama dengan “nabi nabi dan
imam” Israel Utara, yang mengkotbahkan “laporan” palsu dan semu, seolah
olah semua baik dan wajar.
Seperti AUDIT BPK terhadap Kementerian Agama, yang disebut Wajar tanpa
perkecualian. Tapi sesudah tiga minggu Zurkarnain Jabbar, terungkap
dugaan korupsi pengadaan Al Quran, astaganaga !!
Kitab suci juga jadi sasaran korupsi, kementerian agama ternyata
kementrian yang tidak steril korupsi. Ini yang luar biasa ! Padahal
hasil auditnya : Wajar !
Optimism semu seperti inilah yang dikritik oleh Amos, karena tidak
sesuai dengan fakta. Para nabi dan imam, sering mengatakan “semua baik
baik saja”, wajar dan terkendali, rakyat aman aman saja, ekonomi stabil.
Pokoknya tenang saja, semua bisa teratasi !
Optimis, tapi kalau lihat dalamnya “rapuh” !
Seattle-P1, salah satu surat kabar raksasa AS, pada 17 Maret 2009
ditutup oleh para pemegang sahamnya karena perusahaan ini tidak sanggup
lagi menutupi kerugian yang terus menerus terjadi pada perusahaan yang
sudah berdiri sejak 1863 ini. Dalam edisi terakhirnya Seattle P1
menulis, “Anda berarti besar bagi kami” yang mengungkapkan bahwacpara
pembaca dan pelanggan surat kabar merupakan orang penting yang sangat
menentukan kelanjutan perusahaan itu.
Hearst Corp, pemilik perusahaan ini berusaha bergulat menyelamatkan
perusahaan tapi akhirnya tidak sanggup karena pendapatan yang terus
menurun, menurunnya iklan, sirkulasi dan pindahnya pembaca surat kabar
ke situs situs berita gratis di internet.
Sebelumnya perusahaan raksasa As yang sudah berdiri ratusan tahun
seperti Lehman Brothers dan perusahaan investasi milik Bernard Madoff
yang dinyatakan bangkrut karena resesi ekonomi dan kasus penipuan yang
dilakukan pemiliknya sendiri.
Pertanyaan yang menggelitik “ apakah hal ini bisa terjadi di perusahaan
tempat kita bekerja ?” Dan bila itu terjadi “apa dampaknya bagi keluarga
dan kita semua ?”
Melihat pengalaman perusahaan raksasa yang sudah berumur ratusan tahun
di Negara maju bisa ambruk dan runtuh, maka secara realistis, kita harus
terbuka menjawab “sangat mungkin terjadi ?”
Anda tahu apa dampaknya ? bisa menimbulkan stress missal, karena
kehilangan pekerjaan, gangguan penyakit tidak sedikit yang nekad bunuh
diri.
Untuk mencegah musibah itu terjadi di perusahaan kita, maka PERTAMA :
marilah kita bersyukur kepada Tuhan sampai saat ini perusahaan masih
berjalan dengan lancar, meskipun “sempat” pernah “gajian” sempat diundur
waktunya.
KEDUA: kita semua harus bekerja lebih baik, lebih produktif, agar
perusahaan tetap bertahan di masa sulit, sambil mengingat bahwa selain
kita masih ada “generasi” dibawah kita.
KETIGA : kita harus cerdik melihat peluang peluang yang ada, karena jika
ada krisis selalu ada peluang. Semua hal yang “buruk” dalam tata kelola
potensi, Sumber Daya Manusia harus selalu “saling” mengingatkan,
apalagi bila ada “penyalahgunaan” wewenang dan kekuasaan. Demi kecintaan
kita pada perusahaan, keluarga dan generasi penerus kita, maka tidak
ada jalan lain, menyuarakan “suara kebenaran”, apabila melihat hal yang
tidak benar.praktek praktek rekrutmen yang tidak prosedurel, budaya
“titip” apalagi yang tidak berkualitas.
Amos tidak takut di deportasi ke Yehuda, hanya karena “suara
kenabiannya” ditolak, karena dia yakin bahwa hanya dengan menghormati
Allah dan mengasihi sesame, maka Israel boleh membangun optimism yang
benar. Tapi jika tidak maka kehancuran yang didapatkannya.
Dan benar, 20 tahun setelah itu, Israel Utara diluluhlantakan oleh
Asyur. Optimism semu yang dibangun diatas “landasan” keliru, hanya
menunggu kehancuran. Hanya dengan iman dan kebenaran, kita dapat
membangun optimis yang realistis dan berpengharapan.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar