Kamis, 09 Agustus 2012

IBADAH YANG DISUKAI TUHAN

AMOS 5 : 21 – 25
Saudara kekasih Tuhan,
    Saya mau bertanya :”Biasanya kita melakukan apa yang kita sukai atau menyukai apa yang kita lakukan ?” Bukankah pada umumnya kita lebih suka melakukan apa yang kita sukai, tinimbang menyukai apa yang kita lakukan ?”
    Ada orang berkata :” saya paling suka jadi song leader,dibandingkan kunjungan sebab saya “tegang”kalau ikut kunjungan, tidak pinter bicara!” katanya.
    Bukankah itu juga yang terjadi dalam ibadah kita “ melakukan apa yang kita sukai, tinimbang menyukai apa yang saya lakukan ?”
Saya tidak tahu –entah berapa sering orang mengatkan “ saya senang mengikuti ibadah di gereja sana dan di gereja situ karena semangat, karena di sana itu hidup!”.
           Ada orang mengikuti ibadah di gereja situ, pulangnya bersaksi menggebu gebu:” di sana itu baru ibadah !”. KENAPA ? Karena “saya senang” bahkan ada yang pernah bersaksi kepada saya “ di sana pujiannya terangkat kehadirat Allah!”.
Tentu saja sah saja orang senang mengikuti ibadah dimana saja, sebab di mana mana kita ketemu Tuhan Yesus, tapi yang jadi pertanyaan adalah :” ia menyukai ibadah yang ia lakukan, atau melakukan ibadah yang ia sukai ?”
Jujur saja saya seringkali merenungkan motif dan dasar beribadah, sebab kalau motifnya salah dan dasarnya keliru, maka jadi fatal akibatnya. Apa sebenarnya “makna ibadah” itu? Saya tidak mempersoalkan di mananya, tapi “senangnya”. Apakah ibadah itu mencari “kesenangan” bagi diri sendiri atau menyukai apa yang ia lakukan, ketika beribadah, meski “tidak on” namun ia mau bersyukur kepada Tuhan ?
Nampaknya ini pertanyaan sepele, tapi sesungguhnya mendasar, karena ini menyangkut “substansi”, soal “esensi”, soal “hakekat” atau gampangnya soal “isi” bukan bungkus, soal kualitas bukan merek.
Saat seseorang ke gereja untuk beribadah karena di situ “menyenangkan diri” saja, sebenarnya kita sedang menyenangkan diri, ia sedang membangun karakter yang “egois”, di mana pusat ibadah bukan lagi Tuhan, tapi “kesenangan” diri. Sebab kalau “kesenangannya” terganggu, misalnya acaranya tidak “enak” menurut pengertiannya, lalu yang keluar bukan lagi : pujian, tapi makian. Ibadah dijalani dengan “enggan” kalau tohk di-ikuti tapi hatinya tidak sejahtera.
Di sini ibadahnya sangat khas dan unik : ada yang semangat, tepuktangan namun ada yang sangat tenang, sahdu. Saya merasa senang senang saja. Saya bahagia dengan yang sahdu, tenang dan kebahagiaan yang sama  juga saya rasakan saat bersama saudara yang bergembira, saya ikut jadi kanak kanak lagi dengan kegembiraanya : loncat sana loncat sini. Semua harus kita sukai.
Ibadah seperti apa yang sebenarnya disukai oleh Tuhan ? Umat Allah disaat hidup Amos sangat luar biasa ibadahnya. Alkitab menggambarkan betapa meriah ibadah di Bait Allah. Puji-pujiannya luar biasa menggetarkan, penuh dengan iringan musik yang dahsyat, semua alat musik yang ada dibunyikan, paduan suaranya sangat indah, suaranya sangat harmonis. Doanya terasa “menggedor gedor” pintu surga, membahana memenuhi langit, korban persembahannya membumbung tinggi dengan bau bauan yang harum. Sebuah ibadah yang dapat dipastikan “menyenangkan’ dan amat sangat “menyegarkan” bila kita hadir di situ pasti “puas”merasakan hadirat Tuhan memenuhi tempat itu.
Namun aneh sekali, ibadah yang demikian hebat dan pasti menyenangkan itu ternyata ditolak oleh Tuhan. “ Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepadaKu korban korban bakaran dan korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkan daripadaKu keramaian nyanyian nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar” ( ayat 21-23).
 Apa yang salah dan apa yang kurang ? Apakah liturginya yang acak acakan atau persembahannya yang kurang atau adakah doanya yang keliru ? Apakah kesungguhan mereka itu palsu, pura pura saja beribadah padahal hatinya tidak di dalam Bait Allah ? O bukan, mereka pasti amat sangat sungguh sungguh, ibadahnya ditata dengan anggun, acaranya disusun dengan teratur, musiknya dipersiapkan secara professional, jemaatnya menyanyi dengan kegembiraan yang meluap luap, persembahannya adalah pemberian yang terbaik : ada korban bakaran, ada korban sajian, ada korban keselamatan. Tidak Cuma amplop mingguan, tapi bulanan dan tahunan bahkan thanks giving yang lain.
Luar biasa !
Kenapa Tuhan tidak suka, kenapa Allah menolak ibadah yang menggelegar indah dan luar biasa semangatnya ini? Dari ayat 24 kita tahu sebab musabab penolakan Tuhan yaitu “ biarlah keadilan bergulung gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir”
Ini sebabnya.
Apa yang dilihat Tuhan dari ibadah yang jempolan umatNya ini ? ternyata saudara, hal yang membuat Tuhan menolak ibadah mereka yang rajin dalam persekutuan raya, dengan tak lupa membawa persembahan dan puji pujian, ternyata mereka hanya membangun hubungan yang akrab dengan Tuhan, tapi tidak punya hubungan yang manusiawi dengan sesame mereka. Hubungan pribadi dengan Tuhan : oke, beres, bagus tapi hubungan dengan orang lain jeblok. Hanya hubungan vertical saja yang dibangun, tapi lupa pada hubungan horizontal, habl min na lh dan juga habl min na nash. Mereka hanya punya kesalehan pribadi, tapi tak punya kesalehan social.
Ingat sewaktu peristiwa kenaikan Yesus ke surga, para murid ditegur malaikat”hai, orang orang Galilea mengapakah engkau menengadah ke langit ?” ( Kisah Para Rasul 1 : 11.a ). Apa artinya ? Itu berarti mereka tidak boleh mengagumi kemuliaan surga saja, melihat surga saja. Tidak boleh hanya menengadah ke langit, tapi agar supaya pergi ke Yerusalem, artinya masuk dalam dunia konkrit, dalam kehidupan sesehari. Iman bukan soal : saya dengan Tuhan beres, namun lebih dari itu juga OK dengan sesame.
Ini yang tidak nampak dalam kehidupan ritual umat Allah, yang tidak ada dalam ibadah mereka. Di Bait Allah mereka ramai menyanyi, hangar binger dalam perayaan, luar biasa dalam persembahan, dan gemuruh nyanyiannya luar biasa, khusuk beribadah dan berdoa, tapi keluar dari Bait Allah, mereka lupa sama sekali dengan apa yang dilakukan di Bait Allah.
Kitab Amos 2 : 6-7, 10-12  mencatat kelakuan umat Allah “ menjual orang benar karena uang, orang miskin dihargai sepasang kasut; menginjak injak orang lemah ke dalam debu, membelokkan jalan orang sengsara, anak dan ayah menjamah perempuan muda, para nabi diberi anggur, nazir tidak boleh bernubuat”
Apa yang kita lihat ?
Kehidupan masyarakat “kacau” fitnah disebar di mana mana. Orang benar laku dijual. Demi uang, orang benar jadi “barang dagangan”, orang miskin “dijual” dengan sangat murah, hanya seharga sepasang kasut. Artinya manusia tidak ada harganya lagi, yang lemah baik phisik, ekonomi, social : ga punya uang, sahabat, loyo bukannya dapat santunan diakonia tapi malah semakin ditindas, martabatnya dihancurkan. Orang orang sengsara bukannya dituntun, dibekali ketrampilan, diberi modal usaha tapi malah hidupnya “disasarkan” bukannya dituntun pada jalan hidup yang baik, benar dan bermartabat tapi malah dimanfaatkan, karena menjadi komoditi bernilai ekonomi. Secara moral spiritual : terjadi dekadensi, penurunan yang luar biasa! Ayah dan anak sama sama gilanya. Para nabi diberi anggur, kenikmatan hidup supaya mabuk kenikmatan, lupa dengan tugas panggilanNya, supaya kalau kotbah yang pelan pelan, tidak usah keras keras, apalagi menyinggung nyinggung. Nazir Allah juga tidak boleh menyampaikan nubuat.
Jadi kondisi : ekonomi, social, spiritual, moral sedang dalam krisis yang luar biasa, sementara umat bersenang senang di Bait Allah. Menikmati BaitNya, menikmati kasihNya, menikmati pujianNya.
Yang tersisa dari umat Allah waktu itu adalah : upacara upacara agama, ibadah ibadah saja, symbol symbol agama masih gagah, terpampang dengah megah. Ada salib, ada firman Tuhan, ada perjamuan, ada paduan suara. Ini adalah symbol symbol agama. Inilah sebab penolakan Tuhan, hal hal yang membuat Tuhan marah, menolak dan membuang semua bentuk ibadah dengan segala tatacaranya.
Lalu apa yang Tuhan mau ? yang Tuhan kehendaki dari umatNya ? Ibadah macam apa yang Tuhan kehendaki, yaitu ibadah yang tidak dipisahkan dari kehidupan sesehari. Allah mau agar ibadah, yaitu doa, pujian yang tidak hanya membentuk manusia yang “saleh” tapi lebih dari itu “social”; yaitu supaya umat Allah membangun hidup yang lebih manusiawi, bermartabat.
Ibadah tidak boleh berhenti di altar, tapi harus mewujud di pasar. Tidak boleh hanya dekat Allah saja, tapi jauh dengan orang lain,( jauh bukan jaraknya ), suka menghina orang, merendahkan orang lain. Di gereja gemar mengumandangkan pujian tapi diluar gereja lebih banyak mengumbar cacian : buat apa pujian pujiannya itu. Bukankah ibadah membuat kita mengendalikan diri : emosi kita, kata kata kita, pikiran buruk kita dan mengganti serta mengubah cara hidup dan pola hidup kita.
Saya akhiri kotbah saya dengan salah satu bagian dari Novel Robohnya Surau kami karangan AA Navis, yang meratapi robohnya surau sebagai metaphor kesalehan, begini alur ceritanya :
Konon, ketika antrian panjang dialam maut digelar : Suci diperiksa. Ia yakin dan amat PD bahwa ia pasti lolos sensor karena segala : anjuran, perintah, larangan agama ia lakukan dengan sedetil mungkin bahkan bila perlu ditambah lagi detil detilnya biar tambah detil. Ketika ia ditanya :”apalagi yang dilakukan selain yang sudah diperbuat ?” Ia diam karena memang ia tidak melakukan kejahatan, tapi alpa melakukan kebaikan. Di alam pengadilan ia baru sadar bahwa dosa bukan saja terjadi ketika seseorang melakukan kejahatan tapi tidak melakukan yang baikpun sebuah dosa.
Vonispun akhirnya dijatuhkan bahwa ia hanya tekun ibadah tapi miskin dalam ibadah social bahkan terpikirpun tidak bahwa membangun kehidupan social yang manusiawi itu adalah ibadah.
Sucipun protes “ apa salah tekun dan rajin dalam doa dan ibadah ?”
“o, tentu tidak tapi yang salah ialah ketika engkau egois. Engkau berdoa dan ibadah hanya karena takut neraka, bukan karena ibadah itu baik pada dirinya. Juga karena doa dan ibadahmu itu punya pamrih supaya engkau dapat anugerah kapling surga. Itu berarti doa dan ibadahmu penuh dengan pamrih, tidak tulus dan ikhlas. Lagian karena fokusmu hanya menengadah ke atas, engkau lupa yang dibawah, lupa keluargamu yang butuh waktumu, sesasamu yang butuh karya dan kerjamu. Dan sesamamu yang buta terhadap realitas, buta terhadap kebenaran dan bisu menyuarakan pembelaan hak hak orang miskin dan tersingkir sehingga mereka tetap termarginal tanpa engkau terganggu oleh keadaan mereka. Aku beri kalian negeri kaya namun kalian malas dan tidak suka bekerja keras. Kalian lebih suka beribadah. Kalian kira AKU mabuk pujian atau suka disembah ?”
Novel ini bertutur dengan jernih bahwa Allah senang dengan orang yang memanusiakan manusia, tinimbang orang beribadah dengan dahsyat tapi hidupnya tidak manusiawi. “ Biarlah keadilan bergulung gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang mengalir !”

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar