YOHANES 20 : 19 – 31
Saudara yang berkehendak baik,
Pernah ketakutan ? Kalau pernah, bersyukurlah ! Sebab itu berarti
“syaraf takut” kita masih berfungsi dengan baik. “alarm tsunami” kita
masih “normal”. Yang menakutkan justru ketika “alarm tsunami” kita
jebol, dan jeblok, tidak berfungsi dengan baik, padahal pada saat itu
harus “bunyi”.
Ini yang terjadi di Aceh, pada hari Rabu, 11 April 2012 yang lalu. Dari
Sembilan alarm tsunami, yang berfungsi Cuma : 4. Astaganaga ! sangat
menakutkan dan sangat mengerikan, bila peristiwa tahun 2004 terulang
kembali. Sangat menakutkan ! pasti “akan” banyak jatuh korban.
Pada satu sisi, saudara, orang perlu punya rasa takut dan perlu “takut”,
supaya bisa waspada dan siaga bila ada bahaya. Bila “tsunami hidup”
datang, menerjang, menghantam, menghancur leburkan “bangunan” kita. Bila
tiba tiba “penyakit’ akut “menempel” di tubuh kita, bila “kematian”
menghampiri kekasih kita, bila “PHK” memecat kita.
Ini perlu, supaya kita hidup “sehat”, baik “cara hidupnya” yang bijak :
bisa menabung, mengumpulkan sedikit demi sedikit, untuk bekal kelak.
Karena hidup kita cepat sekali perubahannya. Jangan kita berfikir :”akh,
masih lama, nikmati saja yang ada sekarang ini” Lalu hidupnya
sembarangan dan serampangan. Beli ini, beli itu, yang mungkin tidak kita
butuhkan.
Kumpulan Kotbah
Minggu, 12 Agustus 2012
Jumat, 10 Agustus 2012
YANG KITA PIKIRKAN, ITULAH YANG KITA DAPATKAN
FILIPI 4 : 8-9
“ Jadi akhirnya, saudara2, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari, dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu “
Saya mengenal ayat ini dengan baik, setelah saya mereview, melihat ulang perjalanan hidup saya. Semasa SD, saya pernah punya kebanggaan; yaitu ketika masuk final lomba lari. Saya berhadapan dengan kawan yang postur tubuhnya tinggi besar, paling besar di kelas. Selalu meremehkan saya, karena saya memang “kecil dan kerempeng”.
Sewaktu babak final, dia sudah mengecil ngecilkan saya dengan jarinya. Tapi saya diam, walaupun dalam hati mendidih juga melihat sikapnya. Tetapi sikap “meremehkan” kawan saya ini malah memicu dan memacu saya untuk bertekad : menang.
Jadi, sewaktu sudah dipanggil, masuk ke garis start, pada waktu yang ada dalam pikiran saya adalah :” saya akan menang, saya harus menang!” Dan saya berlari dengan “keyakinan” seperti itu. Dan luar biasa, saya menang.
Pengalaman kedua : Saya buka rahasia, kenapa saya di sini, di Gunung Madu ini.
Saya melayani Tuhan, selama ini di kota pantai. Di Cilacap, pantai selatan. Di Pasuruan, Pantai Jawa, di Teluk Betung, di pantai. Semua saya jalani dengan “gembira”, saya yakini sebagai panggilan Tuhan. Tapi ada pertanyaan dan ada kerinduan yang lain. Saya ingin sekali pelayanan di gunung. “ Saya harus di gunung, saya mesti di kota gunung.
Dan untuk ini, saudara, saya berdoa terus, sambil bertanya, kadang mengadu kepada Tuhan :” Tuhan, kenapa Engkau memanggil aku di kota pantai terus ?” Bolehkah aku melayani Engkau di gunung ?” Tapi saya tidak pernah menyebut gunung apa ?
Ketika saya dip roses di Gunung Madu dan berada di tengah tengah saudara, saya baru ingat doa saya, “ ini jawaban Tuhan ?!” Tapi gunungnya bukan tanah berbukit tinggi, tapi tanah datar, namanya saja Gunung Madu.
Sekarang saya telah banyak belajar dan mengerti lebih baik arti afirmasi, yaitu suatu ungkapan atau kalimat positif yang terus menerus diulang untuk menanamkan suatu pesan yang kuat pada diri kita, pada bawah sadar kita.
“ Jadi akhirnya, saudara2, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari, dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu “
Saya mengenal ayat ini dengan baik, setelah saya mereview, melihat ulang perjalanan hidup saya. Semasa SD, saya pernah punya kebanggaan; yaitu ketika masuk final lomba lari. Saya berhadapan dengan kawan yang postur tubuhnya tinggi besar, paling besar di kelas. Selalu meremehkan saya, karena saya memang “kecil dan kerempeng”.
Sewaktu babak final, dia sudah mengecil ngecilkan saya dengan jarinya. Tapi saya diam, walaupun dalam hati mendidih juga melihat sikapnya. Tetapi sikap “meremehkan” kawan saya ini malah memicu dan memacu saya untuk bertekad : menang.
Jadi, sewaktu sudah dipanggil, masuk ke garis start, pada waktu yang ada dalam pikiran saya adalah :” saya akan menang, saya harus menang!” Dan saya berlari dengan “keyakinan” seperti itu. Dan luar biasa, saya menang.
Pengalaman kedua : Saya buka rahasia, kenapa saya di sini, di Gunung Madu ini.
Saya melayani Tuhan, selama ini di kota pantai. Di Cilacap, pantai selatan. Di Pasuruan, Pantai Jawa, di Teluk Betung, di pantai. Semua saya jalani dengan “gembira”, saya yakini sebagai panggilan Tuhan. Tapi ada pertanyaan dan ada kerinduan yang lain. Saya ingin sekali pelayanan di gunung. “ Saya harus di gunung, saya mesti di kota gunung.
Dan untuk ini, saudara, saya berdoa terus, sambil bertanya, kadang mengadu kepada Tuhan :” Tuhan, kenapa Engkau memanggil aku di kota pantai terus ?” Bolehkah aku melayani Engkau di gunung ?” Tapi saya tidak pernah menyebut gunung apa ?
Ketika saya dip roses di Gunung Madu dan berada di tengah tengah saudara, saya baru ingat doa saya, “ ini jawaban Tuhan ?!” Tapi gunungnya bukan tanah berbukit tinggi, tapi tanah datar, namanya saja Gunung Madu.
Sekarang saya telah banyak belajar dan mengerti lebih baik arti afirmasi, yaitu suatu ungkapan atau kalimat positif yang terus menerus diulang untuk menanamkan suatu pesan yang kuat pada diri kita, pada bawah sadar kita.
Kamis, 09 Agustus 2012
IBADAH YANG DISUKAI TUHAN
AMOS 5 : 21 – 25
Saudara kekasih Tuhan,
Saya mau bertanya :”Biasanya kita melakukan apa yang kita sukai atau menyukai apa yang kita lakukan ?” Bukankah pada umumnya kita lebih suka melakukan apa yang kita sukai, tinimbang menyukai apa yang kita lakukan ?”
Ada orang berkata :” saya paling suka jadi song leader,dibandingkan kunjungan sebab saya “tegang”kalau ikut kunjungan, tidak pinter bicara!” katanya.
Bukankah itu juga yang terjadi dalam ibadah kita “ melakukan apa yang kita sukai, tinimbang menyukai apa yang saya lakukan ?”
Saya tidak tahu –entah berapa sering orang mengatkan “ saya senang mengikuti ibadah di gereja sana dan di gereja situ karena semangat, karena di sana itu hidup!”.
Ada orang mengikuti ibadah di gereja situ, pulangnya bersaksi menggebu gebu:” di sana itu baru ibadah !”. KENAPA ? Karena “saya senang” bahkan ada yang pernah bersaksi kepada saya “ di sana pujiannya terangkat kehadirat Allah!”.
Tentu saja sah saja orang senang mengikuti ibadah dimana saja, sebab di mana mana kita ketemu Tuhan Yesus, tapi yang jadi pertanyaan adalah :” ia menyukai ibadah yang ia lakukan, atau melakukan ibadah yang ia sukai ?”
Saudara kekasih Tuhan,
Saya mau bertanya :”Biasanya kita melakukan apa yang kita sukai atau menyukai apa yang kita lakukan ?” Bukankah pada umumnya kita lebih suka melakukan apa yang kita sukai, tinimbang menyukai apa yang kita lakukan ?”
Ada orang berkata :” saya paling suka jadi song leader,dibandingkan kunjungan sebab saya “tegang”kalau ikut kunjungan, tidak pinter bicara!” katanya.
Bukankah itu juga yang terjadi dalam ibadah kita “ melakukan apa yang kita sukai, tinimbang menyukai apa yang saya lakukan ?”
Saya tidak tahu –entah berapa sering orang mengatkan “ saya senang mengikuti ibadah di gereja sana dan di gereja situ karena semangat, karena di sana itu hidup!”.
Ada orang mengikuti ibadah di gereja situ, pulangnya bersaksi menggebu gebu:” di sana itu baru ibadah !”. KENAPA ? Karena “saya senang” bahkan ada yang pernah bersaksi kepada saya “ di sana pujiannya terangkat kehadirat Allah!”.
Tentu saja sah saja orang senang mengikuti ibadah dimana saja, sebab di mana mana kita ketemu Tuhan Yesus, tapi yang jadi pertanyaan adalah :” ia menyukai ibadah yang ia lakukan, atau melakukan ibadah yang ia sukai ?”
Rabu, 08 Agustus 2012
MEMBANGUN OPTIMISME MASA DEPAN
MOS 7 : 7 - 15.
Pernah lihat orang yang pesimis ? ia bisa membuat lumpuh dan putus asa hidup kita. Karena yang keluar adalah : gerutuan dan keluhan. Apa yang di-gerutukan dan dikeluhkan ? Hampir segala hal dan segala sesuatu.
Perhatikan expresi dan wajah orang yang dipenuhi gerutuan itu :
KENINGNYA penuh kerut kerut yang permanen. Otot otot wajah dan lehernya begitu kencang dan tegang, mirip batu karang. Gaya berjalannya lamban dan lambat. Kepalanya selalu tertunduk, dan ia sangat gugup dan sibuk berfikipir.
Apa sebab ? Apakah ia punya masalah dengan punggungnya ? Penyakit yang melemahkan tubuhnya ? Oh, tidak, masalahnya adalah sesuatu yang lain. Ia menyerahkan hidupnya pada hal yang tidak ada. Bahkan dapat dikatakan ia ahli dalam hal ini. Apa yang ia keluhkan ? Segalanya !!
Pernah lihat orang yang pesimis ? ia bisa membuat lumpuh dan putus asa hidup kita. Karena yang keluar adalah : gerutuan dan keluhan. Apa yang di-gerutukan dan dikeluhkan ? Hampir segala hal dan segala sesuatu.
Perhatikan expresi dan wajah orang yang dipenuhi gerutuan itu :
KENINGNYA penuh kerut kerut yang permanen. Otot otot wajah dan lehernya begitu kencang dan tegang, mirip batu karang. Gaya berjalannya lamban dan lambat. Kepalanya selalu tertunduk, dan ia sangat gugup dan sibuk berfikipir.
Apa sebab ? Apakah ia punya masalah dengan punggungnya ? Penyakit yang melemahkan tubuhnya ? Oh, tidak, masalahnya adalah sesuatu yang lain. Ia menyerahkan hidupnya pada hal yang tidak ada. Bahkan dapat dikatakan ia ahli dalam hal ini. Apa yang ia keluhkan ? Segalanya !!
Keajaiban Memberi
YOHANES 6 : 1 – 14
Saudara kekasih Tuhan,
Di dunia ada hokum yang paten, yang disebut : hokum tabor –tuai, aksi reaksi, memberi –menerima. Namanya hokum, pastinya ada. Tidak ada orang “menuai” tanpa pernah“menabur”. Tidak ada “reaksi” tanpa pernah ada “aksi”, begitu pula tak pernah kita “menerima” tanpa pernah“memberi”.
Kalau ingin memiliki perkawinan yang bahagia, maka tidak ada cara lain selain memberi energy positif dan menyingkirkan semua energy negative atau bahkan memberikan kekuatan. Khan begitu rumusnya ?
Bagaimana kita ingin “suami-istri” mampu berkarier dengan baik, memiliki kinerja yang dapat diharapkan, tapi kita tidak pernah memberikan : pujian dan hormat, serta dukungan positif. Yang ada hanya : keluhan, kekecewaan dan cacian. Setiap pulang dari kantor, pasang wajah yang tidak bersahabat, seolah olah ketemu musuh. Tapi kok minta perkawinan yang bahagia. Ini nonsense !
Kalau kita ingin anak remaja kita bertumbuh menjadi anak yang lebih menyenangkan dan mau terbuka dengan orang tua, maka tidak ada jalan lain bagi orang tua untuk memberi pengertian, menjadi orang tua yang lebih berempati, lebih memberikan kasih sayang.
Saudara kekasih Tuhan,
Di dunia ada hokum yang paten, yang disebut : hokum tabor –tuai, aksi reaksi, memberi –menerima. Namanya hokum, pastinya ada. Tidak ada orang “menuai” tanpa pernah“menabur”. Tidak ada “reaksi” tanpa pernah ada “aksi”, begitu pula tak pernah kita “menerima” tanpa pernah“memberi”.
Kalau ingin memiliki perkawinan yang bahagia, maka tidak ada cara lain selain memberi energy positif dan menyingkirkan semua energy negative atau bahkan memberikan kekuatan. Khan begitu rumusnya ?
Bagaimana kita ingin “suami-istri” mampu berkarier dengan baik, memiliki kinerja yang dapat diharapkan, tapi kita tidak pernah memberikan : pujian dan hormat, serta dukungan positif. Yang ada hanya : keluhan, kekecewaan dan cacian. Setiap pulang dari kantor, pasang wajah yang tidak bersahabat, seolah olah ketemu musuh. Tapi kok minta perkawinan yang bahagia. Ini nonsense !
Kalau kita ingin anak remaja kita bertumbuh menjadi anak yang lebih menyenangkan dan mau terbuka dengan orang tua, maka tidak ada jalan lain bagi orang tua untuk memberi pengertian, menjadi orang tua yang lebih berempati, lebih memberikan kasih sayang.
Membangun Bait Allah Dalam Tiga Hari
YOHANES 2 : 13 – 22
Saudara yang kekasih,
Seorang anak, sebut saja : Ryan, dua tahun, punya adik. Suatu malam Ryan terbangun karena mendengar adiknya menangis kencang sekali dan lama sekali baru tenang. Dia merasa terganggu sekali, apalagi ia tidak dapat menyembunyikan dirinya bahwa ia iri, jeoules dengan kehadiran adiknya ini.
Dalam kantuk dan jengkelnya Ryan bertanya pada ibunya yang juga setengah mengantuk :” Dari mana sich adik datang ?” Sang ibu menjawab ,” Dari surga Ryan !”
Ryan kemudian berkata :” Ohh…sekarang aku tahu mengapa dia diturunkan dari surge! Banyak nangisnya sich …..”
Mungkin ini hanya humor saja, hanya cerita saja. Namun point dari cerita itu adalah bahwa sesuatu yang baru tidak selalu diterima sebagai sesuatu yang menyenangkan, namun juga gangguan dari apa yang sudah ada.
Enak mana sepatu lama, yang sudah butut dengan sepatu baru yang masih kinclong ? Pasti enak yang lama, enggan kita, kalau tidak terpaksa untuk menggantinya. Ogah kita menggantinya, kalau tidak malu karena mau ketemu besan atau walikota atau gubernur.
HP yang baru, ya memang lebih enak bagi yang menguasai cara cara pemakaian fungsi fungsi penggunaan, tapi untuk orang seperti saya, yang tahunya telephone dan sms, pasti HP baru, gadget terbaru yang efektif dan efisien malah mengganggu.
Padahal pergumulan menerima sesuatu yang baru itulah yang menjadi bagian dari hidup kita. Perubahan adalah realitas yang tak dapat ditolak, sebab menolak perubahan berarti menolak realitas. Tak ada yang tidak berubah. Maka satu satunya yang abadi adalah perubahan.
Saudara yang kekasih.
Saudara yang kekasih,
Seorang anak, sebut saja : Ryan, dua tahun, punya adik. Suatu malam Ryan terbangun karena mendengar adiknya menangis kencang sekali dan lama sekali baru tenang. Dia merasa terganggu sekali, apalagi ia tidak dapat menyembunyikan dirinya bahwa ia iri, jeoules dengan kehadiran adiknya ini.
Dalam kantuk dan jengkelnya Ryan bertanya pada ibunya yang juga setengah mengantuk :” Dari mana sich adik datang ?” Sang ibu menjawab ,” Dari surga Ryan !”
Ryan kemudian berkata :” Ohh…sekarang aku tahu mengapa dia diturunkan dari surge! Banyak nangisnya sich …..”
Mungkin ini hanya humor saja, hanya cerita saja. Namun point dari cerita itu adalah bahwa sesuatu yang baru tidak selalu diterima sebagai sesuatu yang menyenangkan, namun juga gangguan dari apa yang sudah ada.
Enak mana sepatu lama, yang sudah butut dengan sepatu baru yang masih kinclong ? Pasti enak yang lama, enggan kita, kalau tidak terpaksa untuk menggantinya. Ogah kita menggantinya, kalau tidak malu karena mau ketemu besan atau walikota atau gubernur.
HP yang baru, ya memang lebih enak bagi yang menguasai cara cara pemakaian fungsi fungsi penggunaan, tapi untuk orang seperti saya, yang tahunya telephone dan sms, pasti HP baru, gadget terbaru yang efektif dan efisien malah mengganggu.
Padahal pergumulan menerima sesuatu yang baru itulah yang menjadi bagian dari hidup kita. Perubahan adalah realitas yang tak dapat ditolak, sebab menolak perubahan berarti menolak realitas. Tak ada yang tidak berubah. Maka satu satunya yang abadi adalah perubahan.
Saudara yang kekasih.
Langganan:
Komentar (Atom)